Swalayan UMKM Kotim Untuk Peningkatan PAD
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah menargetkan Swalayan UMKM Sampit segera berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) setelah dilakukan pergantian pengelola dan pembenahan manajemen.

Plt Kepala DKUKMPP Kotim Muslih (kiri) dan Pengelola baru Swalayan UMKM Sampit Rahmad Noor (kanan) saat mengecek produk-produk di Swalayan UMKM Sampit, Minggu malam (12/4/2026)
“Kepada pengelola baru saya harap bisa dikelola dengan baik dan cepat bergerak untuk menghidupkan kembali Swalayan UMKM Sampit,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Kotim, Muslih di Sampit, Senin 13 April 2026.
Muslih menjelaskan, pergantian pengelola ini dilakukan setelah pengelola sebelumnya mengundurkan diri. Pemerintah daerah kemudian menunjuk Rahmad Noor sebagai pengelola baru, yang secara resmi menerima surat keputusan pada 8 April 2026.
Pengelola baru diminta bergerak cepat menghidupkan kembali aktivitas swalayan milik pemerintah daerah itu agar mampu menarik pengunjung dan meningkatkan transaksi.
Swalayan yang berada di Jalan Yos Sudarso tersebut diharapkan dapat dikembangkan menyerupai ritel modern, namun tetap mengutamakan produk-produk lokal, mulai dari makanan, minuman hingga kerajinan khas daerah.
Selain sebagai pusat promosi dan distribusi produk UMKM, keberadaan swalayan ini juga diproyeksikan menjadi sumber PAD. Pasalnya sejak diresmikan pada Februari 2025, belum ada kontribusi retribusi yang masuk ke kas daerah.
“Sebelumnya pengelola lama diberikan waktu dua tahun, namun baru berjalan sekitar satu tahun sudah mengundurkan diri. Untuk pengelola baru kita beri waktu tiga bulan, setelah itu baru dikenakan retribusi,” ungkapnya.
Menurutnya, besaran retribusi masih belum ditetapkan karena pemerintah daerah akan melihat perkembangan pengelolaan dalam tiga bulan ke depan. Namun targetnya, dalam waktu tersebut sudah ada pemasukan bagi daerah.
“Harapan kita dalam tiga bulan ke depan sudah ada retribusi yang masuk,” tegas Muslih.
Sementara itu, pengelola baru Rahmad Noor mulai menyiapkan sejumlah strategi untuk menghidupkan kembali swalayan tersebut, dengan fokus utama pada peningkatan promosi dan daya tarik pengunjung.
Menurutnya, secara konsep pengelolaan sebelumnya sudah cukup baik dalam merangkul pelaku UMKM, namun masih kurang optimal dalam memperkenalkan swalayan kepada masyarakat luas.
“Menurut saya promosinya masih kurang, ini yang akan saya tingkatkan supaya dikenal masyarakat sebagai tempat mencari produk lokal, terutama bagi wisatawan,” tuturnya.
Ia berencana menghadirkan berbagai kegiatan untuk menarik keramaian, seperti lomba peragaan busana, pertunjukan musik hingga tarian, yang akan digelar secara rutin di area swalayan.
“Kita akan isi dengan kegiatan lomba-lomba, bahkan peserta bisa kita wajibkan membeli produk UMKM senilai biaya pendaftaran,” terangnya.
Selain itu, Rahmad juga berencana menggelar bazar secara berkala setiap tiga bulan guna menjaga perputaran produk agar tidak menumpuk, sekaligus meningkatkan transaksi pelaku usaha.
Untuk menarik minat pembeli, pihaknya juga menyiapkan program undian berhadiah atau doorprize yang akan diundi setiap akhir tahun, dengan berbagai hadiah seperti sepeda listrik, televisi hingga peralatan rumah tangga.
“Kita siapkan hadiah seperti sepeda listrik, televisi, kipas angin dan lainnya untuk pembeli,” katanya.
Rahmad optimistis strategi promosi yang lebih agresif dapat menghidupkan kembali Swalayan UMKM Sampit dan menjadikannya pusat aktivitas ekonomi produk lokal.
Ia juga yakin waktu tiga bulan yang diberikan pemerintah daerah cukup untuk melakukan pembenahan sebelum nantinya mulai dikenakan retribusi.
“Saya yakin dengan strategi yang dijalankan, swalayan ini bisa hidup dan nantinya berkontribusi pada PAD,” kata Rahmad.






